Namun kebanyakan dari mereka belajar mengenai teknologi informasi secara otodidak dan lulus seleksi secara natural. Sayangnya, terkadang pemuda dengan potensi dan intelektual, kata Zulham, tidak mendapatkan informasi yang baik mengenai lapangan pekerjaan di bidang teknologi informasi. "Iya itu betul (hacker muda meretas untuk mencari jati diri). Ini karena kekurangan informasi mengenai ini. Mereka tidak dibekali pekerjaan yang spesifik di bidang itu dan diakui oleh pemerintah. Maksudnya pekerjaan jenis ini belum populer," ujarnya.
Sebelumnya, enam orang yang masuk dalam Surabaya Black Hat diketahui pernah meretas enam situs milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut diketahui saat pemeriksaan intensif yang dilakukan terhadap tiga tersangka anggota SBH yang telah ditangkap pihak kepolisian pada Rabu. Ketiga tersangka itu diketahui masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Informasi Tekonologi (IT) di salah satu universitas di Surabaya. Mereka adalah NA (21), KPS (21), dan ATP (21). Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) pun dikabarkan turun tangan langsung menangkap sindikat peretas ratusan situs dan sistem elektronik Surabaya Black Hat di Surabaya, Jawa Timur.
Kejahatan Intelektual Zulham menuturkan dugaan kejahatan yang dilakukan sejumlah anggotanya masuk ke dalam kejahatan intelektual. "Mereka ini bisa masuk intellectual crime, kalangan kriminal dengan tingkat kemampuan mereka di atas rata-rata," katanya. Dia menuturkan hal itu berbeda dengan sistem di luar negeri, karena biasanya pemerintah akan merangkul pelaku kriminal dengan intelektual tinggi untuk bekerja pada pemerintah. Hal itu menurutnya yang membuat potensi besar di bidang TI lari ke luar negeri. "Di luar negeri, hacking di sana diprioritaskan sebagai teknisi spesifik untuk membantu jalannya pemerintahan untuk dijadikan cyber army," katanya."Ini karena faktor-faktor ketidakmampuan negara untuk hadir dan menjadi mentor bagi adik-adik yang cerdas-cerdas ini." (asa/asa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar